indonesaEnglish
GIIIPPPPPPPPPPPP

Kamis, 01 Oktober 2015

Demografi Jawa Barat

Kamis, 01 Oktober 2015

I. Penduduk



Mayoritas penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda, yang bertutur menggunakan Bahasa Sunda. dermayondan beberapa kecamatan yang terletak di pantai utara kabupaten Subang dan Kabupaten Karawang seperti Cilamaya Wetan, Cilamaya Kulon dan Pedes (Cemara) menggunakan bahasa Cirebon yang hampir mirip dengan bahasa Cirebon dialek dermayon. Di Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon dan Kabupaten Kuningan dituturkan bahasa Cirebon yang mirip dengan Bahasa Banyumasan dialek Brebes. Di Kabupaten Indramayu menggunakan bahasa Cirebon dialek Indramayu atau dikenal dengan dermayon. Di daerah perbatasan dengan DKI Jakarta seperti sebagian Kota Bekasi, Kecamatan Tarumajaya dan Babelan (Kabupaten Bekasi) dan Kota Depok bagian utara dituturkan bahasa Melayu dialek Betawi. Jawa Barat merupakan wilayah berkarakteristik kontras dengan dua identitas; masyarakat urban yang sebagian besar tinggal di wilayah Jabodetabek (sekitar Jakarta) dan masyarakat tradisional yang hidup di pedesaan yang tersisa.Pada tahun 2010 ,populasi Jawa Barat mencapai 43.497.964 juta jiwa Dan pada tahun 2015 Penduduk Jawa Barat Di Perkiraan 52.476.473 Juta Jiwa, dengan rata-rata kepadatan penduduk 1.258jika/km persegi. Dibandingkan dengan angka pertumbuhan nasional (1,49% per tahun), Provinsi Jawa Barat menduduki peringkat tertinggi Di Indonesia, dengan 2,02% per tahun, tingginya pertumbuhan penduduk jawa barat diakibatkan tingginya tingkat urbanisasi di wilayah Sekitar Jakarta, kabupaten bogor adalah kabupaten terbanyak penduduk di jawa barat maupun di indonesia dengan jumlah penduduk menurut (Badan Pusat Statistik) Sebanyak 5.495.842 juta jiwa,Di susul kabupaten bekasi sebanyak 3.859.943 juta jiwa



Foto Gadis Sunda Zaman Dahulu - Sumber Wikpedia

Penggunaan bahasa daerah kini mulai dipromosikan kembali. Sejumlah stasiun televisi dan radio lokal kembali menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada beberapa acaranya, terutama berita dan talk show, misalnya Bandung TV memiliki program berita menggunakan Bahasa Sunda serta Cirebon Radio yang menggunakan ragam Bahasa Cirebon Bagongan maupun Bebasan. Begitu pula dengan media massa cetak yang menggunakan bahasa sunda, seperti majalah Manglé dan majalah Bina Da'wah yang diterbitkan oleh Dewan Da'wah Jawa Barat.

Jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat adalah sebanyak 52.476.473 jiwa yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 34.872.915 jiwa (65,69 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 18.770.817 jiwa (34,31 persen). Persentase distribusi penduduk menurut kabupaten/kota bervariasi dari yang terendah sebesar 0,41 persen di Kota Banjar hingga yang tertinggi sebesar 11,08 persen di Kabupaten Bogor. Penduduk laki-laki Provinsi Jawa Barat sebanyak 26.307.040 jiwa dan perempuan sebanyak 26.146.692 jiwa. Seks Rasio adalah 104, berarti terdapat 104 laki-laki untuk setiap 100 perempuan. Seks rasio menurut kabupaten/kota yang terendah adalah Kabupaten Ciamis sebesar 98 dan tertinggi adalah Kabupaten Cianjur sebesar 107. Seks Rasio pada kelompok umur 0-4 sebesar 106, kelompok umur 5-9 sebesar 106, kelompok umur lima tahunan dari 10 sampai 64 berkisar antara 97 sampai dengan 113, dan dan kelompok umur 65-69 sebesar 96.

Dengan jumlah penduduk sekitar 37 juta manusia pada tahun 2003, 16 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Pertumbuhan urbanisasi di Provinsi tumbuh sangat cepat, khususnya disekitar JABODETABEK (sekitar Jakarta). Jawa Barat memiliki tenaga pekerja berpendididkan berjumlah 15,7 juta orang pada tahun 2001 atau 18 persen dari total nasional tenaga pekerja berpendidikan. Sebagian besar bekerja pada bidang pertanian, kehutanan dan perikanan (31%), pada industri manufaktur (17%), perdagangan, hotel dan restoran (22,5%) dan sektor pelayanan (29%).

Median umur penduduk Provinsi Jawa Barat tahun 2010 adalah 26,86 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Provinsi Jawa Barat termasuk kategori menengah. Penduduk suatu wilayah dikategorikan penduduk muda bila median umur < 20, penduduk menengah jika median umur 20-30, dan penduduk tua jika median umur > 30 tahun. Rasio ketergantungan penduduk Provinsi Jawa Barat adalah 51,20. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 51 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 48,84 sementara di daerah perdesaan 55,92.

II. Ekonomi


Bandung - Ibu Kota Jawa Barat

Jawa Barat selama lebih dari tiga dekade telah mengalami perkembangan ekonomi yang pesat. Saat ini peningkatan ekonomi modern ditandai dengan peningkatan pada sektor manufaktur dan jasa. Disamping perkembangan sosial dan infrastruktur, sektor manufaktur terhitung terbesar dalam memberikan kontribusinya melalui investasi, hampir tigaperempat dari industri-industri manufaktur non minyak berpusat di sekitar Jawa Barat. PDRB Jawa Barat pada tahun 2003 mencapai Rp.231.764 miliar (US$ 27.26 Billion) menyumbang 14-15 persen dari total PDB nasional, angka tertinggi bagi sebuah Provinsi. Bagaimanapun juga karena jumlah penduduk yang besar, PDB per kapita Jawa Barat adalah Rp. 5.476.034 (US$644.24) termasuk minyak dan gas, ini menggambarkan 82,4 persen dan 86,1 persen dari rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi tahun 2003 adalah 4,21 persen termasuk minyak dan gas 4,91 persen termasuk minyak dan gas, lebih baik dari Indonesia secara keseluruhan. (US$1 = Rp. 8.500,-).

- Industri Potensial :



Bekasi Sebagai Salah Satu Kota Industri dan Perdagangan di Jawa Barat



Manufaktur
Provinsi Jawa Barat memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi untuk manufaktur termasuk diantaranya elektronik, industri kulit, pengolahan makanan, tekstil, furnitur dan industri pesawat. Juga panas bumi, minyak dan gas, serta industri petrokimia menjadi andalan Jawa Barat. Penyumbang terbesar terhadap GRDP Jawa Barat adalah sektor manufaktur (36,72%), hotel, perdagangan dan pertanian (14,45%), totalnya sebesar 51,17%. Terlepas dari adanya krisis, Jawa Barat masih menjadi pusat dari industri tekstil modern dan garmen nasional, berbeda dengan daerah lain yang menjadi pusat dari industri tekstil tradisional. Jawa Barat menymbangkan hampir seperempat dari nilai total hasil produksi Indonesia di sektor non Migas. Ekspor utama tekstil, sekitar 55,45% dari total ekspor jawa Barat, yang lainnya adalah besi baja, alas kaki, furnitur, rotan, elektronika, komponen pesawat dan lainnya.


Pertanian: Lahan dan perairan
Dikenal sebagai salah satu 'lumbung padi' nasional, hampir 23 persen dari total luas 29,3 ribu kilometer persegi dialokasikan untuk produksi beras. Tidak dipungkiri lagi, Jawa Barat merupakan 'Rumah Produksi' bagi ekonomi Indonesia, hasil pertanian Provinsi Jawa Barat menyumbangkan 15 persen dari nilai total pertanian Indonesia.Hasil tanaman pangan Jawa Barat meliputi beras, kentang manis, jagung, buah-buahan dan sayuran, disamping itu juga terdapat komoditi seperti teh, kelapa, minyak sawit, karet alam, gula, coklat dan kopi. Perternakannya menghasilkan 120.000 ekor sapi ternak, 34% dari total nasional.



Kelautan dan perikanan
Jawa Barat berhadapan dengan dua sisi lautan Jawa pada bagian utara dan samudera Hindia di bagian selatan dengan panjang pantai sekitar 1000 km. Berdasarkan letak inilah Provinsi Jawa Barat memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Suatu perencanaan terpadu tengah dilaksanakan untuk pengembangan Pelabuhan Cirebon, baik sebagai pelabuhan Pembantu Tanjung Priok Jakarta, maupun sebagai pelabuhan perikanan Jawa Barat yang dilengkapi dengan industri perikanan.Untuk potensi perairan darat, tidak hanya dari sejumlah sungai yang mengalir di Jawa Barat, Tetapi potensi ini juga diperoleh dari penampungan air / DAM saguling di Cirata dan DAM Jatiluhur yang selain menghasilkan tenaga listrik juga berguna untuk mengairi area pertanian dan industri perikanan air tawar.

Minyak-Mineral dan geothermal
Minyak dapat ditemukan di sepanjang Laut Jawa, utara Jawa Barat, sementara cadangan geothermal (panas bumi) terdapat di beberapa derah di Jawa Barat. Tambang lain sepert Batu gamping, andesit, marmer, tanah liat merupakan pertambangan mineral yang dapat ditemukan, termasuk mineral lain yang cadangan depositnya sangat potensial, Emas yang dikelola PT. Aneka Tambang, potensinya sebesar 5,5 million ton, dan menghasilkan 12,1 gram emas per ton.

Pusat Perbelanjaan
Layaknya berbagai Propinsi di Indonesia. Jawa Barat mempunyai sejumlah Mall besar, dan pada umumnya berada di Bandung yang merupakan Pusat Perdagangan, Wisata, dan Ibukaota Jawa Barat. Pusat Perbelanjaan ini biasa diserbu oleh warga Jakarta maupun Malaysia dan Singapura yang sengaja ingin berlibur ke beberapa wilayah di Jawa Barat. Jarak antara Jakarta dan beberapa kota di Jawa Barat seperti Bogor dan Bandung hanya memakan waktu kurang lebih dua jam. Ditambah akses Tol Cipularang membuat perajalanan lebih singkat dari Jakarta ke Bandung maupun beberapa kota di Jawa Barat.

Berikut Mall Besar yang ada di Jawa Barat :

    Paris Van Java - Bandung

Bandung
Trans Studio Mall Bandung
- Bandung Indah Plaza
- Paris Van Java Mall
- Istana Plaza Bandung
- Cihampelas Walk
- Parahyangan Plaza
- Bandung Electronic Center
- Banceuy Otomotive Plaza
- Braga City Walk

    Grand Metropolitan Mall - Bekasi


    Summarecon Mall - Bekasi


Bekasi
- Bekasi Cyber Park
- Bekasi Junction
- Bekasi Square
- Blu Plaza
- Grand Mal Bekasi
- Grand Metropolitan Mall
- Grand Galaxy City Mall
- Mal Metropolitan
- Summarecon Mal Bekasi

    City Walk Lippo Cikarang



Cikarang
- Mal Lippo Cikarang
- Citywalk Lippo Cikarang



    Pangrango Plaza - Bogor



Bogor
- Ekalokasari Plaza
- Botani Square
- Bellanova Country Mall
- Pangrango Plaza

    Margo City - Depok



Depok
- Depok Town Square
- Mal Cinere
- Margo City


   Mall Ciputra - Cibubur



Cibubur
- Cibubur Junction
- Mall CitraGran
- Mal Ciputra Cibubur



    Grage City Mall - Cirebon



Cirebon
- Cirebon Mall
- Grage Mall
- CSB Mall
- Grage City Mall





III. Pendidikan

Perlindungan dan proses pengembangan Budaya dan Bahasa yang ada di Jawa Barat secara kongrit dimulai dengan adanya Kongres Jawa Barat, kongres Jawa Barat merupakan sebuah wadah berkumpulnya para tokoh masyarakat Jawa Barat untuk membicarakan berbagai persoalan sosial-kemasyarakatan yang ada di Jawa Barat.

Pendidikan 


Kampus UI - Depok, Jawa Barat


Perguruan Tinggi Negeri
-          Universitas Indonesia (UI) Depok
-          Universitas Padjajaran (UNPAD) – Bandung dan Sumedang
-          Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Purwakarta, Sumedang, Tasikmalaya
-          Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati, Cirebon
-          Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Sumedang
-          Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor
-          Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung
-          Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung (Poltekkes),Bandung
-          Politeknik Manufaktur Bandung (POLMAN),
-          Politeknik Negeri Bandung (POLBAN),
-          Politeknik Negeri Sukabumi (Polsu), Sukabumi
-          Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS Bandung), Bandung
-          Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB)
-          Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (STSI Bandung), d/h ASTI 



Perguruan Tinggi Swasta
-          Institut Teknologi Nasional (Itenas), di Bandung
-          Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), di Tasikmalaya
-          Institut Teknologi Telkom (IT Telkom), di Bandung
-          Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB), di Bandung
-          Universitas Telkom, di Bandung
-          Universitas Katolik Parahyangan (Unpar),di Bandung
-     Universitas Kristen Maranatha, di Bandung
-          Universitas Islam Bandung (Unisba), di Bandung
-          Universitas Pasundan (Unpas), di Bandung
-          Universitas Ibn Khaldun Bogor (UIKA), di Bogor
-          Universitas Pakuan (Unpak), di Bogor
-          Universitas Komputer Indonesia (Unikom), di Bandung
-          Universitas Winaya Mukti (Unwim), di Jatinangor Sumedang
-          Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), di Jatinangor Sumedang
-          Universitas Gunadarma (UG), di Depok
-          Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), di Sukabumi
-          Universitas Sukabumi (Unsu), di Sukabumi
-          Universitas Purwakarta (Unpur), di Purwakarta
-          Universitas Sutan Mahesa (Unsuma), di Sukabumi Utara
-          STIE DR.KHEZ Muttaqien (STIE Muttaqien), di Purwakarta
-          Universitas Islam "45" (Unisma), di Bekasi
-          Politeknik Pos Indonesia (Polposindo), di Bandung
-          Universitas Muhammadiyah Bandung (Unimba), di Bandung
-          Universitas Suryakancana (Unsur), di Cianjur
-          Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), di Cirebon
-          Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), 
-          Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon (UNTAG) 
-          Universitas Perjuangan Tasikmalaya (UNPERTAS) 
-          Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) 

















IV. Sejarah

Jawa Barat pada abad ke-5 merupakan bagian dari KerajaanTarumanagara. Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara banyak tersebar di Jawa Barat. Ada tujuh prasasti yang ditulis dalam aksara Wengi (yang digunkan dalam masa Palawa India) dan bahasa Sansakerta yang sebagian besar menceritakan para raja Tarumanagara. Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanagara, kekuasaan di bagian barat Pulau Jawadari Ujung Kulon sampai Kali Serayu dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda. Salah satu prasasti dari zaman Kerajaan Sunda adalah prasasti Kebon Kopi II yang berasal dari tahun 932. Kerajaan Sunda beribukota di Pakuan Pajajaran (sekarang kota Bogor).

Pada abad ke-16, Kesultanan Demak tumbuh menjadi saingan ekonomi dan politik Kerajaan Sunda. Pelabuhan Cerbon (kelak menjadi Kota Cirebon) lepas dari Kerajaan Sunda karena pengaruh Kesultanan Demak. Pelabuhan ini kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Cirebon yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Pelabuhan Banten juga lepas ke tangan Kesultanan Cirebon dan kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Banten.Untuk menghadapi ancaman ini, Sri Baduga Maharaja, raja Sunda saat itu, meminta putranya, Surawisesa untuk membuat perjanjian pertahanan keamanan dengan orang Portugis di Malaka untuk mencegah jatuhnya pelabuhan utama, yaitu Sunda Kalapa (sekarang Jakarta) kepada Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak.

Pada saat Surawisesa menjadi raja Sunda, dengan gelar Prabu Surawisesa Jayaperkosa, dibuatlah perjanjian pertahanan keamanan Sunda-Portugis, yang ditandai dengan Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal, ditandatangani dalam tahun 1512. Sebagai imbalannya, Portugis diberi akses untuk membangun benteng dan gudang di Sunda Kalapa serta akses untuk perdagangan di sana. Untuk merealisasikan perjanjian pertahanan keamanan tersebut, pada tahun 1522 didirikan suatu monumen batu yang disebut padrão di tepi Ci Liwung. Meskipun perjanjian pertahanan keamanan dengan Portugis telah dibuat, pelaksanaannya tidak dapat terwujud karena pada tahun 1527 pasukan aliansi Cirebon - Demak, dibawah pimpinan Fatahilah atau Paletehan menyerang dan menaklukkan pelabuhan Sunda Kalapa. Perang antara Kerajaan Sunda dan aliansi Cirebon - Demak berlangsung lima tahun sampai akhirnya pada tahun 1531 dibuat suatu perjanjian damai antara Prabu Surawisesa dengan Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon. Dari tahun 1567 sampai 1579, dibawah pimpinan Raja Mulya, alias Prabu Surya Kencana, Kerajaan Sunda mengalami kemunduran besar dibawah tekanan Kesultanan Banten. Setelah tahun 1576, kerajaan Sunda tidak dapat mempertahankan Pakuan Pajajaran (ibukota Kerajaan Sunda), dan akhirnya jatuh ke tangan Kesultanan Banten. Zaman pemerintahan Kesultanan Banten, wilayah Priangan (Jawa Barat bagian tenggara) jatuh ke tangan Kesultanan Mataram.

Jawa Barat sebagai pengertian administratif mulai digunakan pada tahun 1925 ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat. Pembentukan provinsi itu sebagai pelaksanaan Bestuurshervormingwet tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas kesatuan-kesatuan daerah provinsi. Sebelum tahun 1925, digunakan istilah Soendalanden (Tatar Soenda) atau Pasoendan, sebagai istilah geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy yang sebagian besar dihuni oleh penduduk yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.

1 Januari 1926 merupakan awal adanya sistem pemerintahan di Jawa Barat pada masa kolonial Belanda. Yang pertama kali memperjuangkan pembentukan sistem pemerintahan di Jawa Barat ke pemerintah Kolonial Belanda adalah para tokoh perjuangan yang ada seperti Oto Iskandar di Nata, Husni Thamrin, Tjokroaminoto dan tokoh lainnya. Usulan itu diterima pemerintah kolonial Belanda, ada sekitar 45 orang pribumi, 20 diantaranya tokoh Sunda yang terlibat dalam pemerintahan provinsi Jawa Barat kala itu. Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Pada tanggal 27 Desember 1949 Jawa Barat menjadi Negara Pasundan yang merupakan salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar: Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB. Jawa Barat kembali bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.


V. Pemerintahan

No.
Kabupaten/Kota
Pusat pemerintahan
1
Kabupaten Bandung
Soreang
2
Kabupaten Bandung Barat
Ngamprah
3
Kabupaten Bekasi
Cikarang
4
Kabupaten Bogor
Cibinong
5
Kabupaten Ciamis
Ciamis
6
Kabupaten Cianjur
Cianjur
7
Kabupaten Cirebon
Sumber
8
Kabupaten Garut
Tarogong Kidul
9
Kabupaten Indramayu
Indramayu
10
Kabupaten Karawang
Karawang
11
Kabupaten Kuningan
Kuningan
12
Kabupaten Majalengka
Majalengka
13
Kabupaten Pangandaran
Parigi
14
Kabupaten Purwakarta
Purwakarta
15
Kabupaten Subang
Subang
16
Kabupaten Sukabumi
Palabuhanratu
17
Kabupaten Sumedang
Sumedang
18
Kabupaten Tasikmalaya
Singaparna
19
Kota Bandung
Bandung
20
Kota Banjar
Banjar
21
Kota Bekasi
Bekasi
22
Kota Bogor
Bogor
23
Kota Cimahi
Cimahi
24
Kota Cirebon
Cirebon
25
Kota Depok
Depok
26
Kota Sukabumi
Sukabumi
27
Kota Tasikmalaya
Tasikmalaya



Cirebon Kota Industri yang memegang peranan penting di utara Jawa Barat


Kabupeten/ Kota Penting dan Memegang Peranan Sebagai Kota Industri dan Perdagangan :
- Kota Bandung
- Kota Bogor
- Kota Bekasi
- Kota Depok
- Kota Tasikmalaya
- Kota Cimahi
- Kabupaten Cirebon
- Kabupaten Padalarang
- Kabupaten Sumedang
- Kabupaten Purwakarta
- Kabupaten Cikampek
- Kabupaten Cianjur


VI. Bandung dan Semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955



Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika (disingkat KTT Asia Afrika atau KAA; kadang juga disebut Konferensi Bandung) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon),India dan Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung,Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.

Sebanyak 29 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu mengirimkan wakilnya. Konferensi ini merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan-kekuatan Barat untuk mengkonsultasikan dengan mereka tentang keputusan-keputusan yang memengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran mereka mengenai ketegangan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat; keinginan mereka untuk membentangkan fondasi bagi hubungan yang damai antara Tiongkok dengan mereka dan pihak Barat; penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di Afrika Utara dan kekuasaan kolonial perancis di Aljazair; dan keinginan Indonesia untuk mempromosikan hak mereka dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat.

Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung, yang berisi tentang "pernyataan mengenai dukungan bagi perdamaian dan kerjasama dunia". Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru. Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961.

Pertemuan Kedua 2005
Untuk memperingati lima puluh tahun sejak pertemuan bersejarah tersebut, para Kepala Negara negara-negara Asia dan Afrika telah diundang untuk mengikuti sebuah pertemuan baru di Bandung dan Jakarta antara 19-24 April 2005. Sebagian dari pertemuan itu dilaksanakan di Gedung Merdeka, lokasi pertemuan lama pada 50 tahun lalu. Sekjen PBB, Kofi Annan juga ikut hadir dalam pertemuan ini. KTT Asia–Afrika 2005 menghasilkan NAASP (New Asian-African Strategic Partnership, Kerjasama Strategis Asia-Afrika yang Baru), yang diharapkan akan membawa Asia dan Afrika menuju masa depan yang lebih baik berdasarkan ketergantungan-sendiri yang kolektif dan untuk memastikan adanya lingkungan internasional untuk kepentingan para rakyat Asia dan Afrika. Ketiga

Pertemuan Ketiga 2015
KAA ke-60 dilaksanakan di 2 kota yaitu Jakarta pada 19-23 April dan Bandung pada 24 April. Agenda KAA meliputi "Asia-Afrika Bussiness Summit" dan "Asia-Africa Carnival". Tema yang dibawa Indonesia dalam acara yang akan dihadiri 109 pemimpin negara dan 25 organisasi internasional tersebut adalah peningkatan kerja sama negara-negara di kawasan Selatan, kesejahteraan, serta perdamaian.

ENSIKLOPEDI LAINNYA


Terkini Indonesia

Terbaik Indonesia

Belanja Indonesia Lihat Lebih Lengkap >>>




Travelling Kita

Comments
0 Comments
 
Copyright ©2015 - 2020 THE COLOUR OF INDONESIA. Designed by -Irsah
Back to top
THE COLOUR OF INDONESIA