indonesaEnglish
GIIIPPPPPPPPPPPP

Senin, 02 November 2015

Budaya Papua

Senin, 02 November 2015

1. Rumah Adat


Rumah Adat Honai Modern - Papua

Salah satu contoh rumah adat Papua dinamakan Honai. Honai merupakan rumah adat Papua yang dihuni oleh suku Dani yang terdapat di Lembah Baliem. Rumah tersebut terdiri dari dua lantai yaitu lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan dan mengerjakan kerajinan tangan. Pintu Honai amat kecil, tanpa jendela dan atapnya terbuat dari rumput lalang. Honai terbentuk seperti jamur dengan ketinggian sekitar 4m. Rumah itu luasnya sekitar12-16m. Dahulu anak laki laki diwajibkan berjaga jaga di Honai dari malam hingga pagi hari, sedangkan anak perempuan/para gadis boleh tidur di Honai secara berkelompok. Selain itu terdapat pula rumah yang berfungsi sebagai kuil animisme. Rumah itu berbentuk kerucut tinggi keatas.

2. Seni Tradisional


Tari Selamat Datang Propinsi Papua

Tari Selamat Datang
Merupakan tari yang mempertunjukkan kegembiraan hati penduduk dalam menyambut para tamu yang dihormati.
Tari Musyoh
Merupakan tari suci/keramat dalam upaya mengusir arwah orang meninggal karena kecelakaan.
Tari Mbes
Merupakan tari garapan yang berfungsi sebagai tari penyambutan tamu. Yang unik dalam tari ini adalah adanya penggambaran tamu yang digotong dalam posisi berlentang pada sebuah perisai. Sementara tifa, yang ritmis dinamis ditengah perkikan perkikan khas, merupakan warna tersendiri bagi tari yang diangkat dari daerha Asmat ini.





















Batik Papua



Pada dasanya Batik Papua memilki ciri khas yang sama dengan batik dari Jawa, namun tetap memilki kekhasannya sendiri. Jika batik-batik dari Jawa, seperti Yogyakarta dan Pekalongan memilki warna-warna yang cenderung gelap seperti coklat tua, berbeda dengan batik Papua yang cenderung memilki warna yang lebih mencolok dan beragam, seperti kuning, hijau, biru dan merah. Selain itu dari segi corak dan motif, batik-batik papua juga memiliki corak yang jika orang pertama kali melihatnya pasti langsung mengenali kalau itu batik Papua. orak yang dimiliki batik Papua biasanya seperti motif Kamoro (Patung berdiri), motif burung Cendrawasih, motif Rumah Honai, motif Asmat (patung-patung kayu suku Asmat), motif Sentani (gambar alur batang kayu yang melingkar-melingkar), dan ukiran jayapura. Ada juga motif yang divariasikan dengan garis-garis berwarna emas yang dikenal dengan motif Prada. Namun secara general, motif dari batik Papua menampilkan alam dan budaya Papua. Asal-usul batik Papua sendiri bermula ketika pemerintah Indonesia mendapat bantuan dari The United Nations Development Program (UNDP) , untuk pemberdayaan kebudayaan Indonesia Timur pada tahun 1985. Pemerintah mendatangkan langsung pembatik dari Jawa khususnya Yogayakarta untuk melatih masyarakat Papua. Pembuatan batik Papua juga terinsipirasi dari peninggalan-peninggalan arkeologi yang tersebar di daerah Papua, seperti lukisan gua yang ada di daerah Biak. Selain itu penginggalan artefak dan fosil lainnya juga menginspirasi kreativitas para pembatik Papua. Batik Papua dinilai tak hanya mengandung unsur sejarah tetapi unsur arkeologi didalamnya, tak heran jika batik Papua banyak disukai oleh dunia Internasional. Kekhasan batik Papua membuat siapa saja yang memakainya terlihat lebih anggun karena keunikannya. Tak ada salahnya anda menambah koleksi batik-batik Nusantara dengan batik Papua ini. Meski di Papua tidak mengenal budaya batik layaknya masyarakat pulau Jawa, namun kita tetap bangga dengan semakin berkembangnya kebudayaan asli Indonesia. Sumber Foto : Batik-Pria.Com

3. Senjata Tradisional



Senjata tradisional di Propinsi Papua adalah pisau belati. Senjata ini terbuat dari tulang burung Kasuari dan bulunya menghiasi hulu belati tersebut. Senjata utama penduduk asli Papua lainnya adalah busur dan panah. Busur terbuat dari bumbu dan kayu, sedangkan tali busur terbuat dari rotan. Anak panahnya terbuat dari bumbu, kayu atau tulang kanguru. Busur dan panah dipakai untuk berburu atau berperang.

4. Pakaian Adat



Pria Papua mengenakan pakaian adat berupa hiasan kepala, kalung yang terbuat dari gigi dan tulang hewan, kalung dari kerang, ikat pinggang dan sarung yang berumbai rumbai. Tombak beserta, tameng dengan hiasan yang khas ikut menyertai pakaian adatnya. Wanitanya memakai kalung dari kerang dan gigi binatang, hiasan pada lengan serta pakaian berumbai rumbai. Pakaian Adat ini disebut Pakaian Adat Papua.

Tentang Koteka


Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya sebagian penduduk asli Pulau Papua. Koteka terbuat dari kulit labu air, Lagenaria siceraria. Isi dan biji labu tua dikeluarkan dan kulitnya dijemur. Secara harfiah, kata ini bermakna "pakaian", berasal dari bahasa salah satu suku di Paniai. Sebagian suku pegunungan Jayawijaya menyebutnya holim atau horim. Tak sebagaimana anggapan umum, ukuran dan bentuk koteka tak berkaitan dengan status pemakainya. Ukuran biasanya berkaitan dengan aktivitas pengguna, hendak bekerja atau upacara. Banyak suku-suku di sana dapat dikenali dari cara mereka menggunakan koteka. Koteka yang pendek digunakan saat bekerja, dan yang panjang dengan hiasan-hiasan digunakan dalam upacara adat. Namun, setiap suku memiliki perbedaan bentuk koteka. Orang Yali, misalnya, menyukai bentuk labu yang panjang. Sedangkan orang Tiom biasanya memakai dua labu. Seiring waktu, koteka semakin kurang populer dipakai sehari-hari. Koteka dilarang dikenakan di kendaraan umum dan sekolah-sekolah. Kalaupun ada, koteka hanya untuk diperjualbelikan sebagai cenderamata. Di kawasan pegunungan, seperti Wamena, koteka masih dipakai. Untuk berfoto dengan pemakainya, wisatawan harus merogoh kantong beberapa puluh ribu rupiah. Di kawasan pantai, orang lebih sulit lagi menemukannya.

Operasi Koteka

Sejak 1950-an, para misionaris mengampanyekan penggunaan celana pendek sebagai pengganti koteka. Ini tidak mudah. Suku Dani di Lembah Baliem saat itu kadang-kadang mengenakan celana, namun tetap mempertahankan koteka. Pemerintah RI sejak 1960-an pun berupaya mengurangi pemakaian koteka. Melalui para gubernur, sejak Frans Kaisiepo pada 1964, kampanye antikoteka digelar. Pada 1971, dikenal istilah "operasi koteka" dengan membagi-bagikan pakaian kepada penduduk. Akan tetapi karena tidak ada sabun, pakaian itu akhirnya tak pernah dicuci. Pada akhirnya warga Papua malah terserang penyakit kulit.
















5. Suku



Kelompok suku asli di Papua baik itu di Propinsi Papua dan Papua Barat terdiri dari 25 suku, dengan bahasa yang masing-masing berbeda. Suku-suku tersebut antara lain:

- Ansus
- Amungme
- Asmat
- Ayamaru
- Bauzi
- Biak
- Dani
- Empur
- Enggros
- Fuyu
- Hatam
- Iha
- Kamoro

- Korowai
- Mandobo/Wambon
- Mee
- Meyakh, mendiami Kota Manokwari
- Moskona, mendiami daerah Merdei
- Muyu
- Nafri
- Sentani, mendiami sekitar danau Sentani
- Souk
- Tobati
- Waropen
- Wamesa



Pendatang:
Jawa, Bugis, Sunda,Makassar, Buton, Batak,Minahasa, Huli, Tionghoa

6. Bahasa
Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia dan 268 Bahasa Daerah
7. Lagu Daerah
- Apuse
- E Mambo Simbo
- Sajojo
- Yamko Rambe Yamko


















ENSIKLOPEDI LAINNYA


Terkini Indonesia

Terbaik Indonesia

Belanja Indonesia Lihat Lebih Lengkap >>>




Travelling Kita

Comments
0 Comments
 
Copyright ©2015 - 2020 THE COLOUR OF INDONESIA. Designed by -Irsah
Back to top
THE COLOUR OF INDONESIA