indonesaEnglish
GIIIPPPPPPPPPPPP

Senin, 05 Oktober 2015

Budaya Yogyakarta

Senin, 05 Oktober 2015

1. Rumah Adat

Bangsal Kencono adalah rumah yang berbentuk padepokan. Rumah ini memiliki halaman yang luasnya 14000m2. Di halaman tersebut banyak terdapat sangkar burung dan tanaman yang menghiasi. Saat ana memasuki bangsal Kencono, anda akan menemukan dua buat patung yang terkenal dengan sebutan bupolo. Patung tersebut menggenggam sebuah pemukul atau biasa disebut gada. Menurut Sumber Sejarah, Bangsal Kencono dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1756M. Dibangunnya padepokan ini dulu ditujukan untuk acara keagamaan atau kesultanan. Tempat ini juga digunakan dalam "Jumenengan" yaitu acara naik tahta seorang sultan. Banyak ornamen dan detail-detail yang terpengaruh aliran hindu seperti jumlah tiang sebanyak tujuh buah melambangkan kesempurnaan dan masih banyak lagi. Rumah Adat Yogyakarta

2. Seni Tradisional


Wayang Kulit salah satu kesenian khas Propinsi D.I Yogyakarta

Kethoprak
Kethoprak adalah kesenian tradisional di Yogyakarta yang dipentaskan dalam bahasa Jawa. Bercerita tentang sejarah sampai cerita fantasi dan didahului dengan tembang Jawa. Kostum dari pemain ketoprak menyesuaikan dengan adegan dan jalan cerita serta selalu diiringi dengan irama gamelan dan keprak.

Wayang Kulit
Sesuai dengan namanya, wayang kulit biasanya dibuat dari kulit kerbau atau kulit lembu. Wayang kulit saat ini telah menjadi warisan budaya nasional dan sudah sangat terkenal di dunia sehingga banyak orang asing yang datang dan mempelajari seni perwayangan. Sampai saat ini wayang kulit  tetap digemari sebagai tontonan yang menarik, biasanya disajikan semalam suntuk.

Wayang Wong
Sesuai dengan namanya juga, wayang wong adalah wayang yang diperankan oleh manusia. Ceritanya juga hampir sama dengan cerita-cerita pada wayang kulit namun dalangnya disamping sebagai piñata cerita tetapi juga sekaligus sebagai sutradara di atas panggung.

Wayang Golek
Berbeda dengan wayang kulit dan wayang wong, wayang golek adalah wayang yang terbuat dari dari kayu. ceritanya berasal dari kisah Menak. Wayang ini banyak disukai karena gerakan-gerakan wayang yang didandani seperti manusia ini sangat mirip dengan gerakan orang.

Jathilan
Jathilan adalah tarian yang penarinya menggunakan kuda kepang, Barongan dan dilengkapi unsur magis. Tarian ini digelar dengan iringan beberapa jenis alat gamelan seperti Saron, Bende, kendang, Gong, dll.

Karawitan
Karawitan merupakan musik gamelan tradisional Jawa yang dimainkan oleh sekelompok Wiyaga dan diiringi oleh nyayian dari Waranggono dan Wiraswara biasanya disebut dengan ‘Uyon-uyon’, sedangkan kalau tanpa diiringi oleh nyayian dari Waranggono atau Wiraswara disebut dengan ‘Soran’.

Tari Kreasi Baru
Seni Tari dan seni Karawitan Jawa selalu berkembang dengan munculnya tata gerak tari dan iram-irama yang baru. Salah seorang perintis tari kreasi baru adalah seniman Bagong Kusudiarjo, padepokannya terletak di daerah Gunung Sempu, Kabupaten Bantul.

Sendratari Ramayana
Sendratari Ramayana mempunyai keistimewaaan tersendiri karena ceritanya mengisahkan antara pekerti yang baik (ditokohkan oleh Sri Rama dari negara Ayodyapala) melawan sifat jahat yang terjelma dalam diri Rahwana (Maharaja angkara murka dari negara Alengka)

Sendaratari Ramayana dipentaskan di Panggung Terbuka Prambanan secara rutin pada bulan Mei sampai Oktober, masing-masing dalam 4 (empat) episode yaitu :
  • Episode satu: Hilangnya Dewi Shinta
  • Episode dua: Hanoman Duta
  • Episode Ketiga: Kumbokarno Leno atau gugurnya Pahlawan Kumbokarno
  • Episode Keempat: Api suci

Apabila ingin menyaksikan ceritera Ramayana secara ringkas (full story), dapat menonton di Teater Tri Murti Prambanan pada setiap hari selasa, rabu, dan kamis. Bisa juga untuk Anda yang ingin menonton Sendratari Ramayana di kota Yogyakarta, beberapa tempat yang menyajikan diantaranya di Jl. Brigjen Katamso (Pura Wisata dan Ndalem Pujokusuman)

Langen Mandra Wanara
Langen Mandra Wanara adalah keseniatan yang merupakan perpaduan antara berbagai jenis tarian, tembang, drama dan irama gamelan adalah salah satu bentuk kesenian tradisional Yogyakarta. Karakteristik tarian ini adalah para penarinya berdiri dengan lutut atau jengkeng sambil berdialog dan menyanyi ‘mocopat’. Cerita langen mandra wanara diambil dari kisah ramayana dengan lebih banyak menampilkan wanara/kera.




















3. Senjata Tradisional





Sama halnya dengan Propinsi Jawa Tengah, di Propinsi D.I Yogyakarta Keris merupakan senjata tradisional yang paling terkenal. Keris-keris itu diberi pula gelar-gelar kehormatan seperti "Kanjeng Kyai Kpek" dan sebagainya. Selain keris terdapat pula Tombak sebagai benda pusaka. Benda-benda itu sangat dihormati dan diberi gelar kehormatan. Antara lain "Kajeng Kyai Ageng Plered", Kanjeng Kyai Ageng Baru", "Kanjeng Kyai Gadapan" dan "Kanjeng Ageng Megatruh". "Kyai Plered" mempunyai sejarah tersendiri, karena Untung Suropati berhasil menewaskan opsir Belanda Kapten Tack dengan menggunakan "Kyai Plered" Oleh karena itu, tombak ini dianggap keramat. Ada pula tombak dan keris yang disebut Tosan Aji. Tosan artinya besi dan Aji artinya dihormati karena bertuah. Benda-benda ini biasanya dirawat baik-baik dan disimpan pada tempat-tempat khusus. Pada saat-saat tertentu benda-benda itu dibersihkan dan dimandikan. Terutama di hari suci seperti 1 Muharam.

Perbedaan Keris Solo mewakili Propinsi Jawa Tengah dengan Keris Propinsi D.I Yogyakarta
Keris gaya Solo disebut ladrang sedangkan Yogyakarta bernama Branggah Ladrang mempunyai bilah (sarung keris) yang lebih ramping dan sederhana tanpa banyak hiasan karena mengikuti gaya senopatenan dan mataram sultan agungan. Sementara keris Solo (Ladrang) pada bilahnya lebih banyak ornamen dan bentuk dan motif karena mengikuti cita rasa Madura dari Mpu Brojoguno. Ukiran keris solo bertekstur lebih halus daripada Yogyakarta. Juga ada perbedaan dari gagang keris, luk, dan lain sebagainya. Masing-masing memiliki filosofi sendiri-sendiri.

4. Pakaian Adat


Pria Yogyakarta memakai pakaian adat berupa tutup kepala (destar), baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang bagian belakang. Ia juga mengenakan kain batik yang bercorak sama dengan sang wanita. Sedangkan wanitanya memakai kebaya dan kain batik. Perhiasannya berupa anting-anting, kalung, dan cincin. Tetapi ada juga yang menggunakan pakaian adat ageng tanpa baju tutup, dan menggunakan kain baik pada Pria dan Wanita, dimana Pria atasnya dengan penutup kepala khas Kesultanan Yogyakarta, sedangkan wanita menggunakan kain atau jarik  kemben. Hal ini dilakukan biasanya ketika berlangsungnya acara pernikahan khas Raja Yogyakarta.






5. Suku
Suku Bangsa yang ada di Propinsi D.I Yogyakarta sebagian besar berasal dari Suku Jawa, disusul oleh Suku Sunda, Melayu, Tionghoa, Batak, dan Minangkabau. Berikut presentase jumlah suku yang ada di Propinsi D. I Yogyakarta.

Suku Bangsa di DIY, yaitu:
Nomor
Suku Bangsa
Jumlah
Konsentrasi
1
Jawa
3.020.157
96,82%
13
Lain-lain
36.769
1,18%
2
Sunda
17.539
0,56%
3
Melayu
10.706
0,34%
4
Tionghoa
9.942
0,32%
5
Batak
7.890
0,25%
6
Minangkabau
3.504
0,11%
7
Bali
3.076
0,10%
8
Madura
2.739
0,09%
9
Banjar
2.639
0,08%
10
Bugis
2.208
0,07%
11
Betawi
2.018
0,06%
12
Banten
156
0,01%


  
6. Bahasa

Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari – hari oleh Masyarakat Yogyakarta. Propinsi D.I Yogyakarta yang masih sarat dengan adat istiadat menggunakan bahasa Jawa sebagai Bahasa Ibu/ Mother Language mereka. Pada tingkatan tertentu bahasa Jawa dibedakan antara bahasa Jawa Kromo dan Ngoko. Sebagai pembatas yang menunjukkan nilai kesopanan dan harkat martabat terhadap orang yang lebih tua atau dihormati, terutama Raja-Raja Jawa dalam hal ini Sri Sultan Hamengkubuwono beserta keluarganya. Selain bahasa Jawa juga terdapat bahasa Sunda, China, dan Indonesia sebagai bahasa pemersatu.

7. Lagu Daerah
- Pitik Tukung
- Sinom
- Suwe Ora Jamu
- Te Kanah Dipanah
- Walang Kekek
- Jangkrik Genggong










ENSIKLOPEDI LAINNYA


Terkini Indonesia

Terbaik Indonesia

Belanja Indonesia Lihat Lebih Lengkap >>>




Travelling Kita

Comments
0 Comments
 
Copyright ©2015 - 2020 THE COLOUR OF INDONESIA. Designed by -Irsah
Back to top
THE COLOUR OF INDONESIA