indonesaEnglish
GIIIPPPPPPPPPPPP

Jumat, 09 Agustus 2013

Laskar Babi dan Sempu

Jumat, 09 Agustus 2013


CONTRIBUTOR
PANGKI PANGLUAR

Kisah menarik bersama "Laskar Babi" sebuah genk dadakan yang dibentuk bersama teman saya di Pare, Kediri adalah ketika Kami melakukan petualangan seru di Pulau Sempu, Malang pada pertengahan Juni 2010. Obrolan hangat tentang pulau ini memang sudah lama dibicarakan bagi para pengkursus Bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare Kediri. Hal ini sudah menjadi wacana kami untuk melakukan ekspedisi terakhir sebelum saya dan teman-teman berpisah (he...he.. tapi tidak menghentikan tali silaturahmi kami) sebab contact dan hubungan batin tetap terjaga. Selain mempunyai tempat yang eksotis dan belum terjamah, Sempu memang rajanya dalam hal melintasi rintangan. Di sini kita benar dipacu adrenalin untuk sampai di tempat itu. Pokoknya hal seru dan gila bisa kita dapatkan di sana. 8 Orang dari Genk kami "Laskar Babi"  ditambah 9 orang dari teman kami di Daffodils, Pare Kediri (Keterangan : Sebuah tempat kursus Bahasa Inggris khusus Kelas Percakapan) memutuskan untuk merencanakan perjalanan ini. Mula-mula dengan kehadiran guru kami Mr Pepsi. Tapi karena ada keperluan ia akhirnya tidak bisa ikut melakukan petualangan bersama kami. Rapat persiapan diadakan di Sanjaya sebuah tempat nongkrong bagi anak-anak kursus Pare yang terkenal dengan Hot Chocolate-nya. Salah satu dari teman kami Bintang menceritakan tentang pulau ini. Maklum ia adalah satu-satunya orang yang pernah melakukan ekspedisi ini sebelum kami. Sempu itu tidak seindah seperti yang elo bayangkan !, Akses menuju kesana perlu keberanian, perlu adu nyali. Terlebih jika musim hujan seperti ini. Bisa gila lo !. Wah bayangan seketika menjadi aneh ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Bintang. Sebelumnya, saya juga pernah mendengar tentang sulitnya akses ke sana. Sebab tempat ini tidak menyediakan berbagai macam fasilitas seperti tempat wisata lainnya. Pulau ini bisa dikatakan sebagai pulau terpencil belum terjamah menurut teman saya dan Bintang "Mikha", teman satu kamp Bahasa Inggris di Zeal, Pare, Kediri.

   Hot Chocolate Sanjaya


Rapat Persiapan 
Pada malam itu dengan ditemani Hot Chocolate dari Sanjaya kami memutuskan siapa saja yang ikut dengan kami, dan perlengkapan apa saja yang harus di bawa pada saat kami berpetualang. Maklum acara ini juga merupakan acara perpisahan bersama teman-teman kami di Daffodils.

Dari genk kami "Laskar Babi" keseluruhan anggota bersedia ikut :
Saya, "Pangki", Bintang, Hadi, Solichan, Arum, Dian, Evi, dan April
total = 8 orang
Dari kelas Daffodils
Mr Edy, Jefri, Adi, Cuplis, Eva, Qori, Airine beserta temannya, Irine
total = 9 orang
Keseluruhan Total 17 Orang.

Mula-mula teman kami Hida memutuskan untuk ikut, tapi berhubung penyakit gatal mendera seluruh tubuhnya akhirnya ia membatalkan rencana itu. Pada rapat persiapan Bintang teman kami juga tidak menyetujui adanya teman kami yang masih di bawah umur "belum punya KTP" untuk ikut berpetualang bersama kami. Dikarenakan medan yang sulit dan mungkin juga belum bisa mengendalikan emosinya secara penuh. Rintangan yang ditempuh memang bukan main-main. Terlebih pada waktu itu masih musim hujan. Tapi saya dan teman-teman memberikan kepercayaan kepadanya. Bahwa kita dapat saling menjaga satu sama lain. Lalu bagaimana dengan perlengkapan "apa saja yang harus dibawa oleh kami", dan berapa biaya yang dikeluarkan oleh kami untuk melakukan petualangan ini. Teman kami Mr Eddy berkata melihat kondisi geografisnya yang masih belum terjamah. Sama seperti apa yang dikatakan oleh Bintang rasanya kita harus membawa segala sesuatu yang dapat melindungi tubuh kita. Hand Glovers/ sarung tangan dan sepatu adalah dua hal yang harus dibawa selain bekal makanan. Usahakan jangan membawa bekal makanan yang terlalu memberatkan pada saat kita berpetualang. Diusahakan secukupnya, sebab di tas juga harus di bawa baju dan celana renang, maklum Sempu adalah lokasi petulangan pantai tak bertuan. Dan yang paling utama adalah air minum yang banyak agar kita tidak dehidrasi pada saat kita melakukan perjalanan ini. Diusahakan  juga membawa coklat, sebagai sumber energi saat melakukan petualangan ini.

Diambil kesimpulan terhadap segala sesuatunya pada malam itu. Dengan biaya Rp 100.000,-/ orang termasuk pembelian makan nasi bungkus untuk 2 kali makan pada saat perjalanan. Kita semua sepakat bahwa tanggal 19 Juni 2010 jam 10 malam , kita berangkat !

12 jam menjelang keberangkatan



Setelah test TOEFL di Elfast untuk terakhir kalinya pada jam 10.00 tepat. Saya bergegas untuk hunting sepatu murah di kota ini. Mika teman saya mengatakan lebih baik pake sepatu murah melihat kondisi medan yang becek dan berlumpur. Sayang sepatu lo katanya !. Berbekal cerita itu akhirnya saya memutuskan untuk membeli sepatu murah. Harga kisaran dari teman saya Mikha sekitar Rp. 15.000,- . Wah ide yang bagus bagi saya. Melaju dengan sepeda ontel khas Kampung Inggris, Pare - Kediri saya memburu sepatu murah ini. Mula-mula saya menuju toko yang dikatakan oleh Mikha, namun sepatu ini ternyata habis. Pelayan toko mengatakan bahwa pada saat musim liburan, sepatu murah ini laku keras. Banyak para pengkursus di Pare membeli sepatu ini untuk dikenakan saat berpergian ke beberapa tempat wisata di Bromo, Lombok dan juga Sempu. Pelayan toko ini mengatakan coba cari toko sepatu di sekitar alun-alun kota ini. 2 hingga 4 toko saya tanyakan lalu di Toko ke 5 saya mendapatkan. Pas sekali dengan saya. Model sepatu warrior murah ini tidak terlihat necis bagi saya, dan terbilang nyaman di pake. Dengan menambahkan atribut tali, sepasangnya dijual Rp. 5.000,-  menambah kenyamanan untuk pemakainya. Harap diketahui bahwa sepatu ini dijual tanpa tali sepatu. Setelah itu saya bergegas ke Kreshna Market. Coklat, Snack dan beberapa minuman menjadi bekal saya selanjutnya. Untuk sarung tangan saya sudah punya. Handphone berbunyi. Bintang, Hadi, dan Solichan menghubungi saya untuk mencari persewaan mini bus untuk melakukan perjalanan wisata ini. Didapat persewaan mini bus sekitar Rp 1.300.000,- dengan uang muka sebesar Rp. 900.000,- sisanya dibayar ketika pulang dari Sempu. Mini Bus ini dikatakan berkapasitas 19 orang ditambah supir jadi kami rasa tidak perlu khawatir untuk melakukan perjalanan ini.

Setelah semua fixed kami memutuskan untuk menunggu sampai malam tiba.

It's Time To Go.......
Jam 10 tepat kami berangkat. Waktu dan kondisi teman-teman yang terasa lelah membuat saya dan teman-teman memutuskan untuk berbicara sebentar dan melajutkan perjalanan dengan tidur hingga pagi tiba. (Walaupun pada kenyatanya saya tidak bisa tertidur pulas karena sisa tidur sebelum berangkat selama 2 jam). Saya masih sempat melihat sejenak mini bus melewati daerah blitar sebelum akhirnya tiba di tempat tujuan kami. Pagi benar sekitar jam 04,.00 (enam jam perjalanan dari Pare - Sendang Biru (Malang Selatan) kami akhirnya tiba.

(Sebagai Informasi Sendang Biru adalah daerah pantai dan dermaga, Di mana kita harus melewati deburan ombak laut sebelum kita sampai ke Pulau ini. Perjalanan untuk menyeberang biasanya menggunakan perahu  khas nelayan yang biasa dipergunakan oleh para nelayan untuk menangkapa ikan. Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 50.000,- untuk satu perahu berkapasitas 9-10 orang, dengan perjalanan selama 10-15 menit).

Jam 4 pagi kami tiba, tanpa suara dengan kesunyian pagi saat itu. Tepat di depan mushola mini bus kami di parkir. Beberapa orang dari teman saya sudah nampak bersiap di halaman depan mushola, tapi nampaknya  Adzan Subuh belum berkumandang hingga jam 04.30 pagi. Jangankan kumandang adzan, air yang menjadi media  pembasuh kita dalam berwudhu juga mati. Kami menunggu hingga jam 05.30 pagi, setelah itu baru   salah satu petugas di Mushola itu keluar dan menyalakan air keran. Kami semua bergegas untuk shalat berjamaah walaupun telat. Setelah Shalat Subuh. Kami mencoba melihat pemandangan sekitar. Wah ternyata belum sampai ke pulaunya saja sudah nampak butiran pasir putih di sekitar dermaga. Kami mencoba bertanya kepada salah seorang nelayan yang baru pulang dari menangkap ikan. Pukul berapa perahu ini dapat mengantarkan kami ke Pulau Sempu ?, Nelayan itu menjawab biasanya pukul 09.00 pagi tetapi berhubung cuaca ekstrim kami majukan mas jadi Pukul 07.00 kita berangkat. Nelayan itu berkata diharap hati-hati dan berlaku sopan. Sebab wilayah ini merupakan hutan tidak berpenghuni tidak ada petunjuk yang jelas hanya jalan setapak yang menjadi petunjuk, dan pantainya walaupun ditutupi oleh cekungan akan tetapi termasuk ke dalam wilayah Pantai Selatan yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik. Mendengar perkataan seorang nelayan tadi. Rasa khawatir dan saling menjaga satu sama lain kian bertambah. Terlebih saya pribadi ketika dalam perjalanan itu agak bersitegang dengan salah satu teman saya, yang mengeluarkan kata tidak sopan !.

Setelah menunggu 1 jam tepat pukul 07.00 kami berangkat !

     Waktunya Berangkat

Sempu I'm Coming !


    Eksis Dulu Ach ...

Melewati perjalanan dengan perahu nelayan yang diiringi oleh deburan ombak yang cukup besar di pagi itu membuat kami merasakan euphoria yang luar biasa. Terlebih saya melihat ubur-ubur yang tiba-tiba muncul ke permukaan laut. Bintang teman saya berteriak awas jangan dipegang Mr. Pangki ubur-uburnya mengeluarkan racun. Nelayan yang mengantarkan kami sepertinya tidak senang dengan tingkah kekanakan saya dan teman-teman. "Kalian baru menyeberang saja sudah membuat onar" Ingat kalian jangan sekali-kali merusak ekosistem di sana. Hutan-hutan di wilayah ini merupakan hutan konservasi ! Kami semua terdiam sejenak. Sekitar 15 menit perjalanan akhirnya kami tiba.

Nelayan mencoba mendorong perahunya ke tepian tapi bagi kami saat itu belum sampai ke tepian. Nelayan  itu berkata sudah sana turun ! Mula-mula kami tidak mau turun karena jarak antara bibir pantai dan nelayan melabuhkan perahunya terlalu jauh. Sehingga kami harus melewati air yang agak dalam dan berarti kami harus berbasah dahulu sebelum memasuki medan petulangan yang sesungguhnya. Dan akhirnya kami terpaksa turun daripada kami di bawa ke tempat pulau yang lain, terlebih kami tidak tahu keberadaan pulau tersebut. (sebagai Informasi di daerah ini terdapat beberapa pulau yang memanjang hingga ke ujung dan berbatasan dengan Samudera Pasifik. Sempu adalah pulau yang terkenal akan snorkling dan wisata petualangannya).

Setelah menyeberang dengan basah kuyup yang menyelimuti sebagian tubuh kami ditambah dengan kaki yang harus terrluka oleh karang-karang batu yang licin akhirnya kami sampai di Gerbang Petualangan. "Ini belum berakhir tapi ini adalah permulaan, petualangan sesungguhnya baru di mulai" Bintang berkata ! Cuaca ekstrim sehabis hujan menandakan bahwa kawasan hutan dan pantai ini masih terlihat lembab. Baru sekitar 500 meter perjalanan, kami sudah dihadapkan oleh kondisi jalan setapak yang becek. "Tuh apa kata gue !, kalau dibilangin nekat sih lo !, Coba kalau kita ke Lombok dah senang-senang kita" lagi-lagi Bintang berkata. Tenang-tenang Mr Edy mencoba menenangkan kami semua. Mr Edy adalah salah satu teman kami yang tergabung dalam kelompok panjat tebing dan pencinta alam. Beberapa petualangannya juga ia tulis di blog pribadinya yang bernama Eddysiku.

    
Dengan kondisi ini berarti kita harus melewati deretan hutan lindung sebelum kita sampai di Pantai Sempu. Berapa lama kira-kira perjalanan. Saya bertanya ke Bintang. Perjalanan dengan kondisi normal saja sudah memakan waktu sekitar 3,5 jam. Terlebih lagi ini yang jalan setapaknya becek berarti kira-kira kita bisa memakan waktu 5 jam pulang pergi 10 jam. Kita hanya bisa menikmati pantai sekitar 1-2 jam.  Tanpa lebih dari itu sebab pukul 6 mini bus kita sudah harus pulang. "Saya berkata !"

Anehnya lagi teman kami Jefri tidak membawa satupun untuk pelindung tubuhnya. Kami baru ketahui ketika kami menyeberang tadi. Boro-boro Hand Gloves untuk melindungi tangannya. Sepatu saja ia tidak membawanya. Berarti ia harus terima kondisi apabila ia tertusuk duri, atau benda asing apapun yang akan mengenai tubuhnya. Baru saja saya memulai perjalanan dasar sepatu baru saya ternyata licin. Wah bahaya ini batin saya. Benar saja beberapa kali saya terjatuh. Dan bukan main-main saya terjatuh hingga beberapa meter nyaris menuju jurang. Dengan melihat kondisi seperti ini. Kami saling menguatkan satu sama lain. Diperlukan kerjasama dalam tim atau Team Work untuk mengatasi hal ini. Mr Edy yang mempunyai dasar pengalaman akan berpetualang lebih banyak dari kami. Kami tunjuk sebagai nahkoda kami. kemanapun arahnya kami ikuti. Beberapa kali selama perjalanan kami tersesat yang berarti kami harus mengulangi rute perjalanan menuju Pantai Sempu.

Jantung kami dibuat berdetak lagi. Kami harus melewati jurang yang menjadi penghubung antara jalan yang satu dan yang lainnya. Jembatan penghubungnya hanya terbuat dari bambu yang tipis. Sangat licin waktu itu. Mirip sekali dengan jembatan sirotol-mustaqim yang menjadi pembatas antara surga dan neraka. Di mana Neraka berada di bawahnya. Satu hingga dua teman kami berusaha melewati jembatan. Hingga keselurahan dari kami berhasil menyelesaikan rintangan ini. Lega rasanya tetapi rintangan kami belum berakhir.

Sudah setengah perjalanan tetapi kami belum menemukan garis laut itu berada. Itu lihat Arif teman kami  menunjukkan arah bibir pantai. Ya ayo kita ikuti arahnya. Sampai terlihat kami harus melewati jurang-jurang ditepian pantai tersebut. Kondisinya memang sudah tidak begitu licin, terik matahari ikut menyinari jalan setapak. Tetapi kondisi jurang yang ada diatas laut dan deburan ombak yang tajam membuat kami berpikir dua kali untuk sampai di sana. Kiranya memang tidak mungkin. Kami mengamati sekali lagi dan kami menemukan akar-akar yang menjadi penghubung untuk sampai di bibir pantai ini. Ya kita harus melewati ini. Kata saya. Bismillah kita bisa ! Ayo kita bisa. Tahap demi tahap kami lalui. Perjalanan dengan bantuan akar bukan berarti tanpa rintangan. Saya dan teman-teman harus terseret hingga samapi ke batasan jurang dan berusaha kembali menaiki atas dataran yang menjorok tajam dengan bantuan akar. Butuh 30 menit untuk sampai ke Pantai Sempu.

Pantai Sempu


   Menari - Nari di Pulau Sempu

Pukul 12.00 tepat dari jam 07.00 pagi perjalanan yang melelahkan hingga 5 jam untuk sampai disana. Tetapi  ini terbayar. Ketika teman-teman meneriaki kami sebagai upacara selamat datang. Di tempat ini bukan hanya tim saya yang berkunjung tetapi juga ada beberapa klub, regu maupun tim yang melakukan perjalanan ini. Bisa dikatakan terbayar karena pantai ini menawarkan keindahan yang luar biasa. Snorkling bisa kita lakukan di sini. Tahukah pantai di film The Beach yang dimainkan oleh Leonardo Di Caprio. Ya pantai ini menawarkan sensasi yang sama seperti ini bahkan saya rasa lebih bagus. Pasir Putih yang nampak jernih membuat kami betah berlama-lama di sini. Pantai ini nampak tak berombak. Ombaknya baru terasa ketika tembok-tembok yang menjadi pembatas antara pantai dan Samudera Hindia di masuki oleh deburan ombak oleh salah satu lubangnya. Teman kami berusaha untuk sampai ke pembatas tetapi selalu gagal. Akhirnya beberapa dari orang-orang disana sepakat siapa yang dapat ke pembatas akan diberi hadiah, berupa arakan hingga ia ditenggelamkan ke sekitar pantai tersebut. Sangat senang rasanya. Saya melihat keanehan mengapa teman-teman saya berusaha untuk memanjat tebing. Wah benar saja, ketika saya sampai di tebing yang berkarang tersebut. Hamparan Samudera Pasifik adalah jendelanya. Sesekali saya melihat aksi Lumba-Lumba dan Paus yang berusaha meloncati deburan ombak yang keras di Samudera Pasifik. Lucunya lagi beberapa teman perempuan saya melakukan pemotretan layaknya model sebuah sampul kalender. Ayo potret, ayo potret lagi. Kata Arif teman saya. Waktu sudah menunjukkan hampir Pukul 14.00 siang kita harus begegas pulang.

Pulang Yuk !

Setelah 2 jam bermain walaupun sepertinya kurang puas, kita harus pulang. Ini pun harus menyisakan waktu kurang dari 1 jam sebab jam 18.00 mini bus sudah harus meninggalkan tempat ini. Perjalanan pulang walau dirasa lebih ringan karena banyak orang-orang yang ikut pulang dalam perjalanan ini, tetapi tetap saja penuh tantangan. Banyak yang dehidrasi karena kehabisan bekal minuman. Sebagai gantinya cokelat sebagai sumber energi dimakan lebih banyak oleh teman-teman. Teman kami Jefri tertusuk duri akibat tidak beralaskan sepatu. Di akhir perjalanan Hadi teman kani juga jatuh pingsan. Dengan kondisi fisik seperti ini kami merasa beruntung akhirnya kami selamat. Hadi teman kami pingsan sejenak dan akhirnya terbangun setelah kami melewati semua rintangan dan sampai di bibir pantai perjalanan menuju pulang. Sambil menunggu perahu kami saling berucap syukur karena perjalanan pulang ternyata hanya butuh 3 jam. Jadi kami bisa mandi dan ganti pakaian apabila kami sudah sampai di Sendang Biru. Perahu nelayan telah mengantarkan kami hingga pukul 17.00 kami telah tiba di Sendang Biru. Sambil menunggu antrian kamar mandi berbayar tidak lupa saya dan beberapa teman membeli buah tangan makanan. Seperti ikan Bandeng, dan Pari yang sudah diasinkan. Pukul 18.00 tepat kami berangkat. Di sini saya dapat mengambil kesimpulan bahwa perjalanan seperti ini diperlukan adanya kerjasama atau team work yang baik. Kita harus saling berbagi. Sambil sedikit melihat ke belakang tadi saya melihat ada beberapa orang yang membawa kompor, bahkan yang perempuan membawa boneka kelinci putih. Semoga mereka selamat sampai tujuan.

Sempu memang tiada terlupakan !

Lihat Lokasi !

Kembali Ke : Artikel


Terkini Indonesia

Terbaik Indonesia

Belanja Indonesia Lihat Lebih Lengkap >>>




Travelling Kita

Comments
0 Comments
 
Copyright ©2015 - 2020 THE COLOUR OF INDONESIA. Designed by -Irsah
Back to top
THE COLOUR OF INDONESIA