indonesaEnglish
GIIIPPPPPPPPPPPP

Senin, 19 Agustus 2013

Holiday Travel 2013

Senin, 19 Agustus 2013



Lebaran adalah moment di mana kita saling memaafkan. Kembali ke Fitrahnya. Hari kemenangan dan berbagi di moment terindah untuk bersilaturahmi. Kumpulnya 2 keluarga kami dari pihak istri dan saya kali ini ada di Surabaya. Tempat kediaman ibu mertua kami di Manyar Tirtoyoso No 22 Perumahan Tompotika, Sby. Kami cukup lama di sini hampir 10 hari kami menikmati Surabaya. Jadwalpun telah kami buat. Mulai dari menemani ibu mertua, jalan-jalan ke Malang dan Sesi pemotretan foto keluarga dari pihak saya. Inilah yang membuat lebaran kali ini berkesan !

Hari Ke-Tiga

Jadwal di hari ketiga saya khususkan untuk mengambil lisence  dari Perusahaan Prudential Assurance sebagai salah satu persayaratan sebagai agent asuransi. Lokasinya terletak di Wisma BRI lantai 7. Karena ini adalah hari terakhir semua karyawan masuk kantor di tanggal 5 Agustus 2013, hari senin maka saya bergegas ke tempat ini. Lisence ini sudah lama sekali tidak saya ambil. Sedangkan untuk mengikuti ujian dari AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia) cukup mahal yaitu sekitar Rp. 350.000,- yang dipotong dari komisi saya. Jadi wajar saja saya harus punya ini sebagai formalitas dan kepercayaan diri dan nasabah bahwa produk yang saya tawarkan ini bermanfaat bagi nasabah. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit dari rumah dengan kondisi jalan yang cukup lenggang di kota terbesar ke -2 ini. Kami akhirnya sampai di tujuan. Lantai 7 tepatnya di Wisma BRI, Surabaya. Saya cukup banyak menggali informasi tentang training program bagi para agent. Maklum agency saya ada di Jakarta, tepatnya di Pru Vision, Wisma UOB-Thamrin Nine Lantai 7, dan Pru Vision sebagai Prudential agency office terbesar hanya mempunyai kantor keagenan di 4 tempat yaitu Jakarta di Thamrin Nine, dan KOKAS "Kota Kasablanka", Semarang. dan Sukabumi, sedangkan di Surabaya Pru Vision tidak mempunyai kantor keagenan. Tapi karena masih dalam satu perusahaan yaitu di bawah PT. Prudential Indonesia Life Assurance saling terdapat koordinasi diantara 1 yang lainnya.

Kantor Prudential Indonesia Life Assurance
Wisma BRI, Surabaya

Setelah selesai kami bergegas untuk membelikan Kado Ulang Tahun untuk Mama. Lokasi pertama yang dituju adalah Tunjungan Plaza. Tetapi motor yang kami pinjam dari kakak istri saya ditolak karena di STNKnya hanya terdapat Notice atau Bukti Pembayaran Pajak tanpa sampul depan. Akhirnya kami beralih untuk parkir di Ranch Market sebelah Tunjungan Plaza, tetap tidak bisa untuk parkir di depan karena security segera menghalangi. Maklum kami tidak membawa mobil sedangkan motor adalah kendaraan kelas dua bagi mereka. Ya apa boleh buat di tempat ketiga akhirnya kami dapat, Galaxy Mall adalah salah satu Mall terbaik di Indonesia. Di sini kami berusaha untuk mencari kado buat mama tercinta. Akhirnya setelah dapat sepatu adalah pilihan yang tepat bagi kami. Mulai dari Sogo dan Centro kami jajaki. Di bagian lain tapatnya di salah satu counter Marks and Spencer kami bertemu dengan kakak ipar dan keponakan.

Galaxy Mall - Tampak Luar

Galaxy Mall Tampak Dalam

Hari ke-Lima
Hari demi hari kami berusaha untuk mengkhususkan untuk fokus kepada ibu. Istri saya sangat rindu akan ibu. Maklum ibu sekarang telihat lebih menurun secara kesehatan setelah mentap di Surabaya. Mungkin suasananya tidak seluas ketika berada di Kemiri G-14, Madiun di rumah ibu yang kami tinggali. Kami sengaja untuk menempati rumah peninggalan bapak sampai akhir hayat ibu, walaupun kami sudah mempunyai rumah di Royal Orchid Residence, Catleya 19, Madiun. Rumah kosong ini saya jadikan toko. Suasana yang berbeda membuat secara phsikis/ mental kesehatan ibu lebih menurun dari sebelumnya. Sedangkan di rumah sangat susah sekali untik mempunyai orang yang dapat menjaga ibu. Kalau ada kakak yang menjaga ibu secara usia juga sudah tidak muda lagi. Sehingga dapat ditarik kesimpulan untuk membawa ibu ke Surabaya. Hari kelima di tanggal 7 bertepatan dengan berakhirnya puasa. Sambil menunggu ngabuburit, saya melihat latihan keponakan saya di SMPN 19 Surabaya. Bandnya cukup dikenal di lingkungan band anak muda Surabaya. Latihan kali ini adalah untuk persiapan manggung di Tretes kata kakak saya.

Hari Ke-Enam
Waktunya saling bermaafan. Sungkem kepada ibu dan kakak-kakak tertua dan bagi-bagi angpao untuk keponakan adalah rhytme yang biasa dilakukan pada saat lebaran. Saling bercerita setelah sholat Ied dilanjutkan tradisi Sungkem adalah sesuatu yang dilakukan di saat Moment Idul Fitri. Terlebih di Moment Fitri kali ini 1434 H kakak saya dari Jakarta berencana untuk datang ke Surabaya. Jadilah seluruh keluarga fokus untuk kumpul di Surabaya. Malamnya kami bersilaturahmi ke rumah mas di Margorejo IV F.




Hari Ke-Tujuh

Saya tidak sabar untuk menunggu kedatangan Mama dan Kakak saya sekeluarga yang berangkat dari Madiun dan Jakarta. Sebenarnya kakak saya yang tinggal di Madiun juga merencanakan berangkat di lebaran ke-tiga tapi berhubung tingkat kemacetan yang luar biasa dan tiket Kereta Api Sancaka telah dibeli jadilah mama saya berangkat sendiri dan tiba di Stasiun Gubeng Baru jam 00.15 dengan dijemput oleh saya dan istri. Kami segera meluncur ke lokasi kakak saya sekeluarga menginap tepatnya di Plaza Surabaya Hotel lantai 7. Hotel ini dahulu bernama Radisson Hotel tetapi berubah kepemilikannya oleh pihak Plaza Surabaya Hotel. Hotel yang memiliki tingkat hunian hotel yang cukup laris ini memang cukup dikenal oleh turis mancanegara maupun domestik yang ingin menikmati Kota Surabaya. Terlebih lokasinya memang berada di jantung ibu kota Jawa Timur ini. Plaza Surabaya Hotel bersebelahan dengan Plaza Surabaya atau lebih dikenal dengan Delta Plaza. 2 jam kami berbincang hingga pukul 02.00 kami memutuskan untuk pulang. Karena besok kami berencana untuk melakukan perjalanan ke Malang.

Hari Ke-Delapan
Tepatnya jam 10.00 kakak saya sekeluarga beserta mama menjemput saya. Sekalian bersilaturahmi ke Ibu yang kondisinya lagi kurang sehat. Lebaran pertama ibu jatuh empat kali dari kamar mandi. Saya memutuskan untuk tidak menyertakan istri saya untuk melakukan perjalanan ke Malang. Terlebih mobil yang di sewa berukuran kecil, jadi hanya pas untuk kami berdelapan. Ada yang menarik dari penjelasan Mama katanya perjalanan dari Surabaya-Malang bisa ditempuh hanya satu jam. Padahal ini lebaran ke-tiga sedangakan perjalanan normal saja bisa ditempuh 3 Jam perjalanan. Hasilnya benar kami baru sampai di Malang sekitar pukul 15.00 atau ditempuh kurang lebih 5 jam perjalanan. Di sepanjang perjalanan driver berusaha memberikan penjelasan mulai dari Lumpur Lapindo ketika kami melewati wilayah ini. Hingga bebek yang terkenal di Surabaya. Pokoknya tujuan kami di sini adalah kuliner. Dia juga menjelaskan tentang kuliner yang enak di Malang. Mulai dari Telo-Telo, Oen yang terkenal akan Roti dan Ice Creamnya hingga Bakso President yang banyak dikunjungi para selebriti yang menyempatkan untuk ke Kota Malang.

Ada yang lucu dari cerita driver seputar kuliner bebek di Surabaya, dia menjelaskan bahwa Bebek Tugu yang terkenal akan bebek Megawati mengenal akan diskriminasi ethnis. Maklum yang jualan adalah orang Madura. Walaupun kita antri jika kiat bukan orang Madura yang terlihat dari perumpamaan fisiknya yang hitam dan bahasa planetnya. Maka kita tidak akan diprioritaskan. Terlebih jika kita bersasal dari etnis China bisa jadi warga kelas tiga kita di sini. Kakak ipar saya protes katanya "Mau makan saja ko repot padahal kita bayar, bagaimana dengan saya dan saudara-saudara ipar yang lain padahal berwajah China tetapi bukan China bisa dipisahkan kita" yang gampang-gampang saja. Maklum para menantu dari mama semuanya berwajah oriental. 
Setelah berapa lama, akhirnya kami sampai di Malang....

-Bakso President
Lokasinya di Jalan Batanghari Nomor 5 Malang.
Dilihat dari tempatnya sulit untuk dibayangkan jika tempat kuliner ini merupakan langganannya para kaum selebrita yang berkunjung ke Malang. Lokasinya agak masuk ke jalanan kecil mirip gang. Dan disebelahnya terdapat perlintasan Rel Kereta Api yang masih aktif. Bisa dibayangkan pada jam-jam tertentu apa yang terjadi jika Kereta Api dengan kecepatan tinggi itu lewat. Penasaran dengan baksonya. Akhirnya kakak ipar saya memilih untuk mencoba Bakso Bakar dan Bakwan yang menjadi khas kota ini. Bakwan adalah semacam bakso yang dicampur dengan tahu bakso, siomay dan pangsit. Dari segi rasa cukup mengundang selera, terlebih karakter dari bakso ini adalah sambalnya. Sambalnya cukup banyak jenisnya, mirip sambal bawang khas bebek hitam Surabaya yang biasa saya makan. Setelah cukup untuk merasakan Bakso President. Kami bergegas untuk melakukan shalat Dzuhur dan Azhar "Maklum shalat ini kami jamak karena perjalanan yang ditempuh cukup lama"


Aktivitas shalat kami lakukan di Masjid Ahmad Yani, Malang. Setelah itu kami putar-putar mengelilingi kota ini. Malang mempunyai persamaan wilayah dengan Bandung, dan Bogor namun dari segi luas wilayah Malang lebih besar dari Bogor. Malang merupakan kota terbesar ke-dua di Jawa Timur setelah Surabaya. Kami sengaja putar-putar melewati alun-alun dan taman kota Malang. Bangunan-bangunan tua khas peninggalan Belanda tampak di Malang. Jl. Boulevard yang merupakan salah satu jalan utama juga kami lewati. Di sini nampak peninggalan rumah-rumah kuno dan kawasan pemukiman elite layaknya Dago, Bandung. Kata Driver kami menambahkan bahwa Jalan Boulevard hingga kawasan tugu dipakai sebagai annualy event "Malang Tempo Doeloe" acara tahunan yang diselenggarakan oleh dinas pariwisata Kota Malang. Acara tahunan ini berlangsung kurang lebih sepekan. Setelah kami putar-putar. Sampailah kami ke sebuah kedai Roti & Ice Cream yang cukup terkenal di zamannya hingga sekarang. Oen menjadi pilihan kami untuk bersantai di kota ini.




Jl. Boulevard Malang

Event Tahunan Malang Tempo Doeloe
Sumber Foto : Halomalang

-Toko Oen Malang
Lokasinya di Jalan Basuki Rachmat Nomor 5 Malang.
Toko ini mempunyai dua tempat di Semarang dan Malang. Toko Oen yang didirikan oleh Mr Oen Tjoen Hoek dan istrinya Mrs Liem Gien Nio dahulu membuka toko di 4 kota yang berbeda Jakarta, Yogyakarta, Semarang dan Malang. Namun karena kondisi management dalam keluarga Oen sendiri yang kurang baik. Akhirnya Mr Oen memutuskan untuk menutup usahanya di dua kota yaitu Yogyakarta (1972) dan Jakarta (1973). Toko ini menghadirkan konsep restaurant yang berbalut dengan toko ice cream dan pastries. Jadi jangan heran banyak para pelancong yang sengaja bersantai atau kongkow sejenak di tempat ini. Terlebih Toko Oen Malang terletak di Jalan Basuki Rachmat yang juga merupakan salah satu jalan utama Malang dan berdekatan dengan Alun-Alun, Sarinah Malang, Dan Gereja Katherdal Malang. Karena lokasinya yang cukup baik banyak para pelancong yang menyempatkan sesi pemotretan di sini, ditambah lagi Bangunan yang khas bergaya Victorian Belanda.










Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 saatnya kami pulang ke Surabaya.

Hari Ke-Sembilan
Hari ini adalah hari utama bagi keluarga saya berkumpul. Mama akan merasa senang anak-anaknya bisa kumpul. Terlebih kami akan melakukan sesi pemotretan di Jonas Photo, Surabaya. Pukul 08.00 kami berangkat dari rumah menuju Plaza Surabaya Hotel. Hotel di mana kakak saya sekeluarga dan mama menginap. Sebelumnya sarapan pagi telah kami bawa untuk kakak dan mama di Nasi Uduk Tambak Bayan. Setelah sampai di hotel ternyata breakfast hotel telah menunggu kami dengan bertukarnya dua orang dari keluarga kakak saya. Akhirnya kami berempat : Saya, Istri, Mama serta keponakan Pradhana Ryandika breakfast di tempat ini. Menu andalan dari Plaza Surabaya Hotel adalah Nasi Goreng Jancuk dengan nasi extra jumbo dan pedas. Harga Nasi Goreng Jancuk cukup mahal yaitu untuk porsi jumbo seharga Rp. 150.000,- mungkin karena berasal dari restaurant hotel, tapi ini tidak terdapat pada menu breakfast kami. Pada umumnya restaurant di hotel-hotel berbintang Surabaya biasa menyajikan menu Traditional Food ala bintang lima bukan International Food seperti hotel-hotel berbintang di Jakarta. Jadilah hari itu kami makan Appetezier : Roti dan Sosi Solo, Main Course : Lontong Balap, Rawon Setan, dan Kupang serta Dessert : Salad Jawa ditambah minumam Wedang Jahe Panas. Dari segi rasa, menurut pribadi saya agak kurang. Berbeda ketika saya mencoba makan-makanan breakfast di hotel berbintang seperti Le Meridien, Grand Mahakam atau JW. Marriot.

Surabaya Plaza Hotel



Sambil menunggu kakak ke tiga saya sekeluarga dari perjalanan ke hotel dari rumah kakak saya yang pertama di Margorejo IV F, kami melakukan perbincangan hangat di kamar hotel, dan rencana kami melakukan sesi pemotretan di Jonas Foto. Kakak ipar saya mencari informasi mengenai alamat Jonas Foto di Surabaya hingga akhirnya kakak kami ke-tiga dan keluarganya tiba ke hotel. Kami melakukan perbincangan hangat. Maklum komunikasi antar kakak-kakak kami baru terjalin kembali ketika lebaran. Lebaran adalah hari yang tepat untuk memaafkan dan bersilaturahmi. Hingga akhirnya pukul 11.00 kami turun dari hotel menuju rumah kakak tertua saya di Margorejo IV F. Sambil menunggu mobil yang mengantarkan kami sekeluarga, kami melakukan foto-foto di Lobby Hotel.

Kiri (Fatya Atala Dhisa), (Our Mother - Hj. Sri Utami), (Retno Damayanti), (Pradhana Ryandika), Kanan (Retno Saraswati), Kiri Atas (Ery Hermawan), (Raditya Fahri Tama), Kanan Atas (My Wife - Lita Murti Hastanti)

Hingga akhirnya kami menuju rumah kakak. Di rumah kakak kondisi demi kondisi berusaha agar tercipta kerukunan di keluarga kami. Perbincangan mulai berjalan hingga pukul 12.30 kami berangkat untuk foto keluarga.

- Jonas Foto Studio Surabaya
Terletak di Jl. Slamet Nomor 16, Surabaya
Studio Foto ini merupakan cabang ke-empat di Pulau Jawa setelah Jakarta, Bandung, dan Bogor
Lokasinya tampak ramai ketika kami melakukan sesi pemotretan di sini. Terlebih di event lebaran. Banyak keluarga yang mengabadikan moment mereka di sini. Bersama dengan sanak saudara yang lainnya, Kemungkinan dengan kondisi yang serupa dengan keluarga kami. Banyak sanak saudara yang berasal dari luar Surabaya pada moment lebaran saling berkumpul dan mengabadikan moment mereka dengan foto di sini. Filosofi " Makin Banyak Foto Makin Banyak Cinta" adalah tepat.


Sambil menunggu Waiting List yang panjang dengan asumsi nomor yang masih jauh kami Lunch dulu di Dapur Desa, Surabaya.

- Dapur Desa Surabaya
Terletak di Jl. Basuki Rachmat Nomor 72, Surabaya




Dapur Desa adalah Restaurant Khas Sunda yang berada di Surabaya. Tetapi jika ditanya restaurant tradisional yang berformat lesehan hampir sulit di jumpai di Surabaya. Mungkin karena kondisi cuaca yang panas di Surabaya. Begitu juga di Dapur Desa ini semua menggunakan AC, di dalam ruangan tidak ada format lesehan di tempat ini. Makanan yang disajikan cukup lezat dan menggoda lidah. Salah satunya adalah udang bakar. Saya berusaha untuk mengabadikan moment yang jarang untuk dipersatukan di sini. Ya tentu saja dengan foto.





Setelah selesai Lunch kami sekeluarga menuju hotel ada beberapa perlengakapan kosmetik kakak saya yang belum terbawa. Sambil melakukan Shalat Dzuhur di sini. Tetapi handphone bergetar di saya. Kakak ipar menghubungi saya bahwa sesi pemotretan sudah bisa dilakukan. Jauh dari perkiraan kami sekitar jam 15.00. Saatnya kami melakukan sesi pemotretan sambil diawali dengan kata Cheers ketika blitz kamera menyala.

Selesai sudah foto pemotretan dengan canda tawa. Sambil menunggu hasil gambar yang di edit. Dengan waktu yang cukup lama. Kami melakukan aktivitas Shalat di sini. Tempat ini sangat tidak menyajikan fasilitas Shalat yang memadai. Tempat wudhu-pun tidak ada untuk foto studio yang se-exclusive ini. Jam 17.00 kami selesai. Setelah selesai kami berencana untuk makan Ice Cream di Grand City, tetapi berhubung waktu tidak memungkinkan karena oleh-oleh khas Surabaya di Panen Raya takut tutup. Acara makan ice creamnya dibatalkan. He..he...he....






Itulah sebagian cerita perjalanan saya pada Holiday Travel 2013. " Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H" - Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Kembali Ke : ARTIKEL


Terkini Indonesia

Terbaik Indonesia

Belanja Indonesia Lihat Lebih Lengkap >>>




Travelling Kita

Comments
0 Comments
 
Copyright ©2015 - 2020 THE COLOUR OF INDONESIA. Designed by -Irsah
Back to top
THE COLOUR OF INDONESIA