indonesaEnglish
GIIIPPPPPPPPPPPP

Kamis, 18 Juli 2013

Bali - Honey Moon Part 2

Kamis, 18 Juli 2013

pp
CONTRIBUTOR
PANGKI PANGLUAR

Hallo Sobat The Colour Of Indonesia ! membahas perjalanan sebelumnya. Rasanya Honey Moon ini merupakan awal yang indah bagi kami melangkah...... Di bagian sebelumnya saya telah menjelaskan bagaimana keindahan pantai Sanur yang tidak jauh dari tempat kami menginap berada. Kami juga melakukan foto bareng gadis Bali lengkap dengan pakaian tradisionalnya. Sekarang kami bergegas untuk melakukan rencana hari ini. Mengunjungi berbagai destinasi wisata di Pulau Dewata.

Tapak Siring dan Tirta Empul

Tapak Siring merupakan Istana Kepresidenan di Bali. Menurut sepengetahuan saya ada beberapa Istana Kepresidenan yang tersebar di Indonesia. Salah satunya yang terdapat di Pulau Dewata. Ketika kami turun rusa-rusa turut menyambut kami. Kondisinya hampir sama dengan Istana Keprisedenan yang ada di Bogor dan Cipanas. Lalu dibelakangnya terdapat Objek Wisata Pura Tirta Empul. Objek wisata ini mempunyai akses masuk dengan Istana Tapak Siring dengan penghubung jembatan bertingkat. Tapi hanya diperuntukan bagi pejabat daerah, atau perwakilan asing yang mempunyai koneksi langsung dengan pemerintah. Jadi kami harus memutar jalan dengan menggunakan bis. Karena lokasinya juga cukup jauh.



Setiba di Tirta Empul terlihat sebuah pura yang lengkap dengan pemandian air panasnya. Di tempat yang kami kunjungi waktu itu tampak ramai. Maklum ada upacara penyucian diri. Di sini kami harus mengikuti adat Bali yaitu dengan memakai "Udeng" sebuah topi khas Bali dan harus menjaga sikap sopan kami. Kami melihat di sisi kanan dan kiri pintu masuk terdapat buah Majapahit. Konon kabarnya merupakan pemberian Sang Patih Gajah Mada bagi Raja Bali. Di area masuk terdapat kolam yang dipenuhi oleh ikan emas raksasa. Ukurannya saya rasa tampak tidak sewajarnya dari ukuran normal Ikan Mas atau Mas Koi kebanyakan. Di bagian tengah terdapat orang yang melakukan penyucian diri. Ada yang unik dari upacara penyucian ini nampaknya turis mancanegara tampak antusias mengikuti upacara ini. Turis Jepang khususnya. Mungkin karena tradisi dan latar belakang kepercayaan dimana agama Budha atau Shinto yang dianut oleh orang Jepang mempunyai kebiasaan yang sama dengan Agama Hindu untuk mempertahankan adat istiadat dan kebudayaannya. Menurut hasil Survey dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Jepang menduduki posisi ke-Tiga setelah Australia, Singapura - Malaysia sebagai penghasil devisa pariwisata bagi Bali. Jika Orang Austarlia memilih Bali sebagai tempat surfing, Malaysia dan Singapore karena faktor serumpun dan kedekatan wilayah dengan Indonesia, Orang Jepang memilih Bali sebagai destinasi wisata adalah karena ingin mempelajari Kebudayaan Bali yang hampir sama dengan Jepang. Sebagai contoh di Bali kita mengenal Pohon sebagai sesuatu yang disucikan. Orang Bali sangat takut untuk menebang pohon tanpa izin kepada kepala Adat/ Hulu Balang setempat. Di Jepang kondisinya juga hampir sama. Di belakang dari objek wisata ini terdapat Pura yang digunakan untuk sembahyang bagi Umat Hindu. Bangunan tampak seperti bangunan tempat suci yang terdapat di Thailand. Walaupun kepercayaan yang dianut berbeda antara mayoritas orang Bali dengan orang Thailand kebanyakan.









Danau Batur, Kintamani-Bali

Setelah cukup lama kami menikmati suasana ini kami melanjutkan perjalanan kembali untuk Lunch di Kintamani, Bali. Perjalanan ke Kintamani cukup jauh, tetapi kondisi ini kami nikmati. Seperti yang saya  utarakan di bagian sebelumnya bahwa kondisi Bali terdiri atas pegunungan dan pantai serta mempunyai akses jalan yang kebanyakan satu arah. Jadi kami harus memutar. Sesekali bis berhenti untuk belanja Jeruk dan Salak Bali. Pemandu Wisata kami sedikit berbagi informasi bagi kami tentang History Of Bali's Woman. Ia menceritakan bahwa sampai tahun 1960 wanita Bali masih menggunakan kain tanpa satu bagian yang menutup buah dadanya. Saya hanya membayangkan begitu eksotisnya wanita Bali pada masa itu. Di lain kesempatan teman istri saya menanyakan tentang Desa Terunyan yang merupakan Kampung Mayat. Konon kabarnya masyarakat setempat mempunyai kepercayaan untuk meletakkan mayat di bawah pohon besar tanpa membakarnya hingga menjadi tengkorak. Entah kenapa mayat-mayat tadi tampak tidak bau. Walaupun tidak dibakar atau dikubur. Menurut masyarakat setempat pohon Terunyan, sebuah pohon besar ini mengeluarkan aroma wangi mirip dengan pohon Kayu Putih.


Perempuan Bali


Makam Desa Terunyan

Akhirnya setelah pemandu kami berbagi informasi. Pukul 10.00 WITA kami sampai di Kintamani untuk Lunch di tempat ini. Saya melihat segerombolan anjing Kintamani menghampiri kami. Dengan warna putih mirip serigala atau anjing hutan. Kami memasuki restaurant dengan background Gunung dan Danau Batur, Kintamani. Masakan yang disajikan cukup menggundang daya tarik. Terlebih kualitas halal tetap dijaga. Maklum di Bali yang mayoritas non muslim juga menghadirkan makanan anjing dan babi. Jadi kami harus selektif memilih restaurant berlabel halal. Banyak foto yang kami buat. Saya dan istri sangat berkesan dengan tempat ini. Sepertinya ingin mengulangi perjalanan untuk kedua kalinya. Hampir 2 jam kami menikmati keindahan tempat ini. Setelah Shalat Dzuhur kami meninggalkan tempat ini untuk menuju Uluwatu, Bali


Anjing Kintamani



PART LAINNYA

Kembali : SERI WISATA INDONESIA

Terkini Indonesia

Terbaik Indonesia

Belanja Indonesia Lihat Lebih Lengkap >>>




Travelling Kita

Comments
0 Comments
 
Copyright ©2015 - 2020 THE COLOUR OF INDONESIA. Designed by -Irsah
Back to top
THE COLOUR OF INDONESIA