indonesaEnglish
GIIIPPPPPPPPPPPP

Rabu, 28 Oktober 2015

Demografi Nusa Tenggara Timur

Rabu, 28 Oktober 2015

Print Friendly and PDF
I. Penduduk



Jumlah penduduk di provinsi ini adalah 4.683.827 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 2,07%. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 2.326.487 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 2.357.340 jiwa (2010). Kepadatan penduduk di Nusa Tenggara Timur sebesar 96 jiwa/km2, dengan presentasi penduduk yang tinggal di perkotaan kurang lebih 20%, dan sisanya sebesar 80% mendiami kawasan pedesaan. Sebagian besar penduduk beragama Kristen dengan rincian persentase kurang lebih sebagai berikut Katolik 54,14% Protestan 34,74%, Islam 9,05% , Hindu 0,11% Buddha 0,01% dan sebanyak 1,73% menganut agama dan kepercayaan lainnya.

Komposisi Suku Bangsa di Propinsi Nusa Tenggara Timur
- Atoni atau Dawan 21%
- Sumba 13%
- Belu (6%)
- Lamaholot (5%)
- Rote (5%)
- Lio (4%)
- Tionghoa (3%)
- Suku Boti (2%)





















II. Ekonomi


Nusa Tenggara Timur dapat dikatakan sebagai Propinsi yang mempunyai tingkat perekonomian di Indonesia. Walaupun demikian beberapa usaha telah dilakukan demi meningkatkan perekonomian di propinsi ini. Potensi Nusa Tenggara Timur yang kaya akan alam wisatanya, menjadi hal besar dalam meningkatkan perekonomian bagi propinsi ini. Di tetepkannya Taman Nasional Komodo sebagai salah satu tujuh keajaiban dunia 7th World Wonder menggantikan Candi Borobudur, membuat propinsi ini semakin meningkat dari segi perekonomian. Banyak Wisatawan maupun Peniliti asing yang ingin belajar tentang Hewan Purba Komodo. Sama dengan kedua propinsi lainnya di gugusan kepulauan Sunda Kecil Bali, dan Nusa Tenggara Timur. Propinsi ini juga kaya akan budaya dan kerajinan tangan, kain Tenun NTT dapat dikatakan yang tebaik. Propinsi Nusa Tenggara Barat dan Timur mempunyai kualitas Kain Tenun yang tekenal di dunia Internasional. Beberapa Perancang Busana Dunia di Fashion Show yang diadakan di Milan, dan New York seringkali menyisipkan Kain Tenun ini ke dalam rancangannya. Bahkan Indonesia juga mempunyai Desainer Internasional Samuel Watimena dan Ghea Panggabean yang membawa kain Tenun sebagai ikon dalam nuansa Etnik Indonesia. Kerajinan yang lain adalah alat musik Sasando, alat musik yang berasala dari buah lontar, menjadi kebagnggan bagi Masyarakat Nusa Tenggara Timur. Alat musik ini mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, harganya bahkan sampai puluhan juta, hampir sama dengan harpa. Alat musik yang dibuat dengan tingkat kesulitan yang tinggi ini adalah salah satu diantara sekian banyak hasil budaya Indonesia yang cukup berharga dan menaikkan citra Indonesia di mata Internasional.

















III. Pendidikan



Perguruan Tinggi Negeri
Universitas Nusa Cendana
Politeknik Negeri Kupang
Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Perguruan Tinggi Swasta
Universitas Kristen Artha Wacana


IV. Sejarah

Bentangan kepulauan yang terletak antara 80-120 Lintang Selatan dan 1180 – 1250 Bujur Timur, merupakan bagian dari NKRI; mempunyai makna tersendiri pada hidup dan kehidupan banyak orang. Gugusan pulau-pulau tersebut disapa dengan berbagai sebutan, antara lain, "Sunda Kecil, Nusa Tenggara, Nusa Tenggara Timur", dan juga "Flobamora". Sebutan tersebut juga bisa bermakna ada aneka suku dan sub-suku di/pada wilayah tersebut, namun mempunyai satu tanda kesamaan yaitu sama-sama menyatukan diri sebagai anak-anak Flobamor atau pun NTT. Jauh sebelum nama NTT tersebar, gugusan pulau-pulau di selatan Nusantara tersebut telah menjadi perhatian dunia. Harumnya aroma cendana dari Timor telah menerobos sampai Timur Tengah, Tiongkok, dan Eropa, dan berbagai penjuru bumi. Kekuatan aroma cendana tersebut menjadikan para pedagang dari Malaka, Gujarat, Jawa dan Makasar, Cina melakukan pelayaran niaga untuk mencapai wilayah sumber cendana. Dan mereka melakukan kontak dagang secara langsung dengan raja-raja di Timor dan pulau-pulau sekitarnya, sang pemilik wilayah dan pemimpin rakyat.

Catatan sejarah dari Tiongkok, "manuskrip Dao Zhi", sejak tahun 1350 dinasti Sung sudah mengenal Timor dan pulau-pulau sekitar, dan salah satu pelabuhan terkenal di Timor adalah "Batumiao-Batumean Fatumean Tun Am", yang ramai dikunjungi kapal dari Makasar, Malaka, Jawa, Tiongkok dan kemudian Eropa seperti Spanyol, Inggris, Portugis, Belanda. Negarakertagama (1365) mencatat bahwa Timor yang terkenal dengan hasil cendananya merupakan wilayah Majapahit, namum mempunyai raja-raja yang otonom dan mandiri.

Ketika tahun 1510, Goa-India dikuasai Portugis, mereka melanjutkan eskpansinya dengan cara menguasai Malaka pada tahun 1511. Malaka dijadikan pusat perdagangan serta penguasaan wilayah nusantara. Portugis berhasil mencapai Maluku, Solor (Flores). Tahun 1511 armada Ferdinand Magellan (dua kapal) singgah di Alor dan Timor (Kupang). Dalam penyeberangan ke selat Pukuafu, kedua kapal ini tertimpa badai, salah satu kapal karam dan hancur. Salah satu jangkar raksasa kapal ini hingga kini masih ada di pantai Rote. Satu lainnya berhasil lolos dari amukan ombak melanjutkan perjalanan ke Sabu, kemudian ke Tanjung Harapan dan kembali ke Spanyol.

Ketika Belanda, dengan VOCnya, mencekram Nusantara, tahun 1614, mereka menempatkan Pdt. M van den Broeck di Kupang dan Rote, untuk melayani warga Kristen di sana. Ini juga bermakna, walau VOC masih berusia muda (berdiri 1602), kongsi dagang itu telah menempatkan kantor, benteng, pegawainya di Timor dan pulau-pulau sekitar; dan dengan itu perlu seorang pendeta sebagai pemelihara rohani. [Pada era V0C, tahun 1600an – 1799, dan bahkan sampai tahun 1900, tidak banyak catatan sejarah yang bisa menjadi pengetahuan publik; dan sekaligus bisa menjadi tambahan pengetahuan kepada anak-anak NTT]. Belanda waktu itu masih dikuasai oleh pemerintah boneka dari kekaisaran Perancis dibawah Napoleon. Keadaan tersebut dimanfaatkan Inggris untuk memperluas jajahannya dengan merebut jajahan Belanda. Armada Inggris mengganggu daerah kekuasaan Belanda, sehingga pada tahun 1799 hampir seluruh wilayah Indonesia (kecuali Jawa, Palembang, Banjarmasin dan Timor) dalam kekuasaan Inggris. Dua kapal Inggris memasuki pelabuhan Kupang pada l0 Juni l797, namun berhasil dipukul mundur oleh Greving yang mengarahkan pada mardijkers. Pada waktu VOC dibubarkan pada th 1799, segala hak dan kewajiban Indonesia diambil alih oleh pemerintah Belanda. Peralihan ini tidak membawa perubahan apapun, karena pada waktu itu Belanda menghadapi perang yang dilancarkan oleh negara tetangga.

Di era kolonial sampai 1942, rakyat NTT, harus terbagi-bagi sesuai keinginan Belanda, dalam bentuk Raja – Swapraja, fetor – Kefetoran, dan seterusnya; dan kemudian menjadi daerah taklukan di bawah pemerintahan residen. Ketika Jepang berkuasa di Nusantara, wilayah NTT yang strategis, ditata ulang sebagai basis pertahanan. Penataan administrasi pemerintahan pun nyaris tidak mengalami perubahan, hanya ada perubahan istilah. Ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, NTT sebagai bagian Nusantara yang dijajah Belanda, bebas dari cengkraman kolonial. Akan tetapi, karena keinginan Belanda untuk tetap berkuasa di Nusantara termasuk NTT, maka mereka melakukan berbagai upaya untuk tetap ada di bumi Flobamor. Keadaan tersebut, membangkitkan semangat “Nasionalisme – Kebebasan – Kemerdekaan NTT” pada/dalam diri anak NTT. Semangat yang tak pantang menyerah tersebut, bahkan, melahirkan Pemerintah Negara Indonesia Timor dan Pemerintah Otonom NTT. Bisa dikatakan bahwa NTT hampir sama dengan Yogyakarta, pada waktu itu, yang menyatakan diri setia kepada Soekarno – Hatta. Perjuangan yang gigih anak NTT tidak berhenti, dan juga tidak pernah terbit dalam pikiran untuk melepaskan diri dari RI, yang baru merdeka. Ada semangat kesatuan Indonesia pada jiwa dan darah A.H. Koroh, I.H. Doko, Th. Oematan, Pastor Gabriel Manek, Drs. A. Roti, Y.S. Amalo, dan lain-lain agar NTT tidak berada dalam kekuasaan penjajah, tetapi menjadi bagian dari RI. Ketika negeri ini [NKRI] masih belum tegak berdiri tegak, NTT menjadi bagian dari Provinsi Administratif dengan nama "propinsi Sunda kecil". Nama "Sunda kecil" kemudian diganti dengan nama "Nusa Tenggara", berdasarkan peraturan pemerintah No. 21 tahun 1950. Tidak lama setelah itu, pada tahun 1957 berlaku UU No. 1 tahun 1957 tentang pokok-pokok Pemerintahan Daerah dan dengan UU No. 64 tahun 1958, sehingga "Propinsi Nusa Tenggara" dibagi menjadi tiga daerah Swantantra Tingkat 1, yaitu masing-masing Swantantra Tingkat 1 Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sejak 20 Desember 1958, pulauFlores, Sumba, Timor, dan pulau-pulau sekitarnya menjadi salah satu provinsi, dalam/di kesatuan Republik Indonesia.

V. Pemerintahan

Kota Labuhan Bajo - Nusa Tenggara Timur


Kabupaten dan Kota
No.
Kabupaten/Kota
Pusat pemerintahan
1
Kabupaten Alor
Kalabahi
2
Kabupaten Belu
Atambua
3
Kabupaten Ende
Ende
4
Kabupaten Flores Timur
Larantuka
5
Kabupaten Kupang
Oelamasi
6
Kabupaten Lembata
Lewoleba
7
Kabupaten Malaka
Betun
8
Kabupaten Manggarai
Ruteng
9
Kabupaten Manggarai Barat
Labuan Bajo
10
Kabupaten Manggarai Timur
Borong
11
Kabupaten Ngada
Bajawa
12
Kabupaten Nagekeo
Mbay
13
Kabupaten Rote Ndao
Baa
14
Kabupaten Sabu Raijua
Seba, Sabu Barat
15
Kabupaten Sikka
Maumere
16
Kabupaten Sumba Barat
Waikabubak
17
Kabupaten Sumba Barat Daya
Tambolaka
18
Kabupaten Sumba Tengah
Waibakul
19
Kabupaten Sumba Timur
Waingapu
20
Kabupaten Timor Tengah Selatan
Soe
21
Kabupaten Timor Tengah Utara
Kefamenanu
22
Kota Kupang
-

























ENSIKLOPEDI LAINNYA


Terkini Indonesia

Terbaik Indonesia

Belanja Indonesia Lihat Lebih Lengkap >>>




Travelling Kita

Comments
0 Comments
 
Copyright ©2015 - 2020 THE COLOUR OF INDONESIA. Designed by -Irsah
Back to top
THE COLOUR OF INDONESIA